Asas semua cabang ilmu
pengetahuan adalah pengamatan atau observasi. Pengamatan besaran fisika
umumnya dinyatakan secara kuantitatif atau pengukuran. Kumpulan hasil
pengukuran yang diperoleh dari berbagai sumber diolah dan disintesiskan
menjadi sebuah model atau teori dari suatu gejala alam. Agar berguna,
teori harus mampu menerangkan semua peristiwa alam yang dikenal dan
dapat meramalkan berbagai hal baru yang benar tidaknya dibuktikan dengan
percobaan dan pengukuran baru.
Jika suatu ketika hasil
kajian tidak sesuai dengan ramalan teori, maka perlu verifikasi atau
bahkan gugurlah teori itu. Dengan demikian peranan eksperimen sebagai
balikan untuk suatu teori.
Istilah-Istilah Dalam Pengukuran
Untuk menentukan suatu
besaran secara kualitatif maka diperlukan instrumen atau alat ukur,
dimana instrumen ini akan membantu manusia mengetahui suatu besaran atau
variabel yang tidak diketahui. Untuk menggunakan instrumen secara tepat
diperlukan pemahaman tentang prinsip-prinsip kerjanya dan mampu
memperkirakan apakah instrumen tersebut sesuai untuk pemakaian yang
telah direncanakan.
Dalam pengukuran, digunakan sejumlah istilah yang akan dipakai pada pembahasan berikutnya, antara lain :
a. Instrumen/alat ukur : Suatu alat yang digunakan untuk menentukan nilai atau besarnya suatu kuantitas atau variabel.
b. Ketelitian (accuracy)
: Adalah nilai yang hampir sama atau terdekat dengan pembacaan
instrumen terhadap nilai yang sebenarnya dari variabel yang
diukur.
c. Ketepatan (precision)
: Adalah ukuran kemampuan untuk mendapatkan hasil pengukuran yang
secara berulang dari pengulangan pengukuran yang dilakukan. Atau
merupakan suatu ukuran tingkatan yang menunjukkan perbedaan hasil
pengukuran pada pengukuran yang dilakukan secara berurutan.
d. Sensitivitas (Sensitivity) : Rasio antara sinyal keluaran atau respon instrumen terhadap perubahan masukan atau variabel yang diukur.
Angka-Angka Berarti (Penting)
Angka-angka berarti (significant figures)
memberikan informasi yang aktual (nyata) terhadap ketepatan pengukuran.
Banyaknya angka berarti menunjukkan tingkat atau derajat ketepatan
suatu pengukuran, sebagai contoh : 2 buah tahanan masing-masing 68 W dan 68,0 W ini berarti tahanan pertama memiliki 2 angka penting dan tahanan kedua memiliki 3 angka penting. 68 W memiliki ketepatan yang lebih rendah daripada 68,0 W .
Dari contoh di atas terlihat bahwa betapa pentingnya angka penting dalam suatu hasil pengukuran. Untuk menuliskan hasil pengukuran yang tepat maka terlebih dahulu disajikan contoh-contoh operasi angka penting.
a. Operasi Penjumlahan
Contoh 1.1 :
Dua buah tahanan R1 dan R2 dihubungkan secara berderet (seri). Pengukuran masing-masing dengan menggunakan jembatan Wheatstone menghasilkan : R 1 = 18,7 W dan R 2 = 3,624 W. Tentukan tahanan total sampai beberapa angka berarti yang memenuhi (sesuai).
Penyelesaian :
R1 = 18,7 W (tiga angka berarti)
R2 = 3,624 W (lima angka berarti)
RT = R1 + R2 = 22,324 W (empat angka berarti) = 22,3 W
Angka-angka yang dicetak miring untuk menunjukkan bahwa pada penjumlahan R1 dan R2,
ketiga angka terakhir merupakan angka-angka yang meragukan. Dalam hal
ini tidak ada gunanya untuk menggunakan dua angka terakhir (2 dan 4)
sebab salah satu tahanan hanya diteliti sampai tiga angka yang berarti
atau sepersepuluh ohm.
Bila dua
atau lebih pengukuran dengan tingkat ketelitian yang berbeda
dijumlahkan, maka hasilnya hanya seteliti pengukuran yang paling kecil
ketelitiannya.
b. Operasi perkalian
Banyaknya
angka-angka yang berarti dalam perkalian bisa bertambah dengan cepat,
tetapi sekali lagi diingatkan bahwa yang diperlukan dalam jawaban hanya
angka-angka berarti yang memenuhi.
Contoh 1.2 :
Untuk menentukan penurunan tegangan, arus sebesar 3,18 A dialirkan melalui sebuah tahanan 35,68 W. Tentukan penurunan tegangan pada tahanan tersebut sampai angka-angka berarti yang memenuhi.
Penyelesaian :
E = IR = (3,18) x (35,68) = 113,4624 = 113 V
Karena didalam perkalian tersebut terdapat tiga angka yang berarti (yaitu 3,18), maka jawaban hanya dapat dituliskan maksimal dalam tiga angka yang berarti. Operasi pengurangan dan pembagian sama dengan aturan penjumlahan dan perkalian dalam hal penulisan angka penting.
Jenis-Jenis Kesalahan
Tidak
ada pengukuran yang menghasilkan ketelitian yang sempurna, tetapi
adalah penting untuk mengetahui ketelitian yang sebenarnya dan bagaimana
kesalahan yang berbeda digunakan dalam pengukuran. Langkah pertama yang
diperlukan untuk menguranginya adalah mempelajari kesalahan-kesalahan
tersebut; dimana dari hal ini juga dapat ditentukan ketelitian hasil
akhir.
Kesalahan-kesalahan dapat terjadi karena berbagai sebab dan umumnya dibagi dalam tiga jenis, yaitu :
1. Kesalahan-kesalahan umum (gross-errors):
kebanyakan disebabkan oleh kesalahan manusia, diantaranya adalah
kesalahan pembacaan alat ukur, penyetelan yang tidak tepat dan pemakaian
instrumen yang tidak sesuai, dan kesalahan penaksiran.
2. Kesalahan-kesalahan sistematis (systematic errors):
disebabkan oleh kekurangan-kekurangan pada instrumen sendiri seperti
kerusakan atau adanya bagian-bagian yang aus dan pengaruh lingkungan
terhadap peralatan atau pemakai.
3. Kesalahan-kesalahan yang tak disengaja (random errors):
diakibatkan oleh penyebab-penyebab yang tidak dapat secara langsung
diketahui sebab perubahan-perubahan parameter atau sistem pengukuran
terjadi secara acak.
Masing-masing kelompok
kesalahan ini akan dibahas secara ringkas dengan menyarankan beberapa
metode untuk memperkecil atau menghilangkannya.
a. Kesalahan-Kesalahan Umum
Kelompok kesalahan ini
terutama disebabkan oleh kekeliruan manusia dalam melakukan pembacaan
atau pemakaian instrumen dan dalam pencatatan serta penaksiran
hasil-hasil pengukuran. Selama manusia terlibat dalam pengukuran,
kesalahan jenis ini tidak dapat dihindari; namun jenis kesalahan ini
tidak mungkin dihilangkan secara kesuluruhan, usaha untuk mencegah dan
memperbaikinya perlu dilakukan. Beberapa kesalahan umum dapat mudah
diketahui tetapi yang lainnya mungkin sangat tersembunyi.
Kesalahan umum yang sering
dilakukan oleh pemula adalah pemakaian instrumen yang tidak sesuai.
Umumnya instrumen-instrumen penunjuk berubah kondisi sampai batas
tertentu setelah digunakan mengukur sebuah rangkaian yang lengkap, dan
akibatnya besaran yang diukur akan berubah. Sebagai contoh sebuah
voltmeter yang telah dikalibrasi dengan baik dapat menghasilkan
pembacaan yang salah bila dihubungkan antara dua titik di dalam sebuah
rangkaian tahanan tinggi (contoh 1.3); sedang bila voltmeter tersebut
dihubungkan ke sebuah rangkaian tahanannya rendah, pembacaannya bisa
berlainan bergantung pada jenis voltmeter yang digunakan (contoh
1.4). Contoh-contoh berikut menunjukkan bahwa voltmeter menimbulkan
sebuah “efek pembebanan” (loading effect) terhadap rangkaian, yakni mengubah keadaan awal rangkaian tersebut sewaktu mengalami proses pengukuran.
Kesalahan-kesalahan yang
disebabkan oleh efek pembebanan voltmeter dapat dihindari dengan
menggunakan alat tersebut secermat mungkin. Misalnya, sebuah voltmeter
yang tahanannya kecil tidak akan digunakan untuk mengukur
tegangan-tegangan didalam sebuah penguat tabung hampa. Untuk pengukuran
khusus seperti ini diperlukan sebuah voltmeter dengan impedansi masukan
yang tinggi (misalnya VTVM atau TVM).
Kesalahan-kesalahan umum dalam jumlah besar dapat dikenali dari
keteledoran atau kebiasaan-kebiasaan yang buruk, seperti : pembacaan
aktual yang diambil, atau penyetelan instrumen yang tidak tepat. Pandang
sebagai contoh sebuah voltmeter rangkuman ganda menggunakan satu papan
skala dengan angka-angka (tanda yang berbeda untuk setiap rangkuman).
Dalam hal ini adalah mudah untuk menggunakan sebuah skala yang tidak
bersesuaian terhadap penyetelan sakelar pemilih rangkuman voltmeter
tersebut. Kesalahan umum juga dapat terjadi bila instrumen tersebut
tidak dikembalikan ke angka nol sebelum melakukan pengukuran dan
akibatnya semua pembacaan menjadi salah.
Kesalahan-kesalahan seperti ini tidak dapat dinyatakan secara matematis
tetapi hanya dapat dihindari dengan menggunakan pembacaan yang cermat
dan juga pencacatan data pengukuran yang benar. Hasil yang baik
memerlukan pembacaan lebih dari satu kali, atau mungkin dengan pengamat
yang berbeda. Dalam hal ini kita sama sekali tidak boleh bergantung pada
satu pembacaan saja, tetapi paling harus melakukan tiga pembacaan yang
terpisah. Yang lebih disukai adalah pembacaan pada kondisi-kondisi
dengan pengubahan instrumen-instrumen dari keadaan mati ke keadaan hidup
(off-on).
b. Kesalahan Sistematis
Jenis kesalahan ini dapat dibagi dua bagian yakni :
(1). Kesalahan
instrumental (instrumental error) yaitu jenis kesalahan yang tidak dapat
dihindarkan dari instrumen karena akibat struktur mekanisnya. Misalnya
tarikan pegas yang tidak teratur, pembebanan instrumen secara
berlebihan. Atau kesalahan kalibrasi akibatnya pembacaan yang tidak
tepat. Kesalahan instrumental dapat dihindari dengan cara (i). ketepatan
memilih instrumen yang sesuai peruntukannya, (ii) menggunakan
faktor-faktor koreksi setelah mengetahui banyaknya banyaknya kesalahan
instrumental, (iii) Kalibrasi instrumen dengan instrumen standar (baku).
(2). Kesalahan karena
lingkungan (environmental errors) yakni jenis kesalahan akibat dari
keadaan luar yang berpengaruh terhadap instrumen, seperti efek perubahan
suhu, kelembaban udara, tekanan udara luar, atau medan elektromagnetik.
Kesalahan
sistematis dapat pula dibagi atas kesalahan statis dan kesalahan
dinamis. Contoh mikrometer bila diberi tekanan yang berlebihan untuk
memutar poros menyebabkan kesalahan statis. Kesalahan dinamis akibat
ketidakmampuan instrumen untuk memberikan respon yang cepat bila terjadi
perubahan dalam variable yang diukur.
c. Kesalahan-kesalahan acak (random errors)
Kesalahan-kesalahan ini diakibatkan oleh penyebab yang tidak diketahui
dan terjadi walaupun semua kesalahan-kesalahan sistematis telah
diperhitungkan. Kesalahan-kesalahan ini biasanya hanya kecil pada
pengukuran yang telah direncanakan secara baik; tetapi menjadi penting
pada pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan ketelitian tinggi, misalkan
suatu tegangan akan diukur oleh sebuah voltmeter yang dibaca setiap
setengah jam. Walaupun instrumen dioperasikan pada kondisi–kondisi
lingkungan yang sempurna dan telah dikalibrasikan secara tepat sebelum
pengukuran, akan diperoleh hasil-hasil pembacaan yang sedikit berbeda
selama periode pengamatan. Perubahan ini tidak dapat dikoreksi dengan
cara kalibrasi apapun dan juga oleh cara pengontrolan yang ada. Cara
satu-satunya untuk membetulkan kesalaha ini adalah dengan menambah
jumlah pembacaan dan menggunakan cara-cara statistik untuk mendapatkan
pendekatan paling baik terhadap harga yang sebenarnya.
1.5 Analisis Statistik (Statistical Analysis)
Analisis
statistik terhadap data pengukuran adalah pekerjaan yang bisa sebab dia
memungkinkan penentuan ketidakpastian hasil pengujian akhir secara
analisis. Hasil dari suatu pengukuran dengan metode tertentu dapat
diramalkan berdasarkan data contoh (sample data) tanpa memiliki
informasi (keterangan) yang lengkap mengenai semua faktor-faktor
gangguan. Agar cara-cara statistik dan keterangan yang diberikannya
(interpretasi) bermanfaat, biasanya diperlukan sejumlah pengukuran yang
banyak. Juga dalam
hal ini, kesalahan-kesalahan sistematis harus kecil dibandingkan
terhadap kesalahan-kesalahan acak; sebab pengerjaan data secara
statistik tidak dapat menghilangkan suatu prasangka tertentu yang selalu
terdapat dalam semua pengukuran.
a. Nilai Rata-Rata
Nilai yang mungkin dari suatu variabel yang diukur adalah nilai rata-rata dari semua pembacaan yang dilakukan. Pendekatan
paling baik akan diperoleh bila jumlah pembacaan untuk suatu besaran
sangat banyak. Secara teoritis, pembacaan yang banyaknya tak berhingga
akan memberikan hasil paling baik, walaupun dalam prakteknya hanya dapat
dilakukan pengukuran yang terbatas.
b. Penyimpangan Terhadap Nilai Rata-Rata
Penyimpangan (deviasi) adalah selisih antara suatu pembacaan terhadap
nilai rata-rata dalam sekelompok pembacaan. Jika penyimpangan pembacaan
pertama x1 adalah d1, penyimpangan pembacaan kedua x2 adalah d2, dan seterusnya,
c. Simpangan rata-rata
Deviasi rata-rata
adalah suatu indikasi ketepatan instrumen yang digunakan untuk
pengukuran. Instrumen-instrumen yang ketepatannya tinggi akan
menghasilkan deviasi rata-rata yang rendah. Menurut definisi, deviasi
rata-rata adalah penjumlahan nilai-nilai mutlak dari
penyimpangan-penyimpangan dibagi dengan jumlah pembacaan.
d. Deviasi Standar
Deviasi standar
(root–mean–square) merupakan cara yang sangat ampuh untuk menganalisis
kesalahan-kesalahan acak. Secara statistik, deviasi standar dari jumlah
data terbatas didefinisikan sebagai akar dari penjumlahan semua
penyimpangan (deviasi) setelah dikuadratkan dibagi dengan banyaknya
pembacaan.
KESALAHAN-KESALAHAN YANG MUNGKIN (PROBABILITY OF ERRORS)
a. Distribusi Kesalahan Normal
Pada tabel 1.1
ditunjukkan sebuah daftar dari 50 pembacaan tegangan yang dilakukan pada
selang waktu yang singkat dan dicatat pada setiap kenaikan 0,1 Volt.
Tegangan nominal secara grafik dalam bentuk sebuah diagram balok atau
histogram dengan jumlah pengamatan digambarkan terhadap masing-masing
pembacaan tegangan. Histogram pada gambar 1.1 menyatakan data dari tabel
1.1.
TABEL 1.1 Daftar Pembacaan Tegangan
Pembacaan Tegangan (Volt)
|
Jumlah Pengukuran
|
99.7
99.8
99.9
100.0
100.1
100.2
100.3
|
1
4
12
19
10
3
1
50
|
Hukum kesalahan Gauss atau
hukum normal membentuk dasar dalam mempelajari efek-efek acak secara
analitis. Walaupun penulisan matematis bagi masalah ini diluar lingkup
pembatasan ini, pernyataan-pernyataan kualitatif berikut adalah
didasarkan pada hukum Normal :
(a). Semua pengamatan termasuk efek gangguan-gangguan kecil, disebut kesalahan-kesalahan acak;
(b). Kesalahan-kesalahan acak bisa positif atau negatif,
(c). Kemungkianan kesalahan acak yang positif dan negatif adalah sama
Dengan demikian kita dapat
mengharapkan bahwa pengamatan pengukuran yang merngandung
kesalahan-kesalahan yang positif dan negatif besarnya hampir sama,
sehingga jumlah kesalahan total akan kecil dan nilai rata-rata akan
menjadi nilai sebenarnya dari variabel yang diukur.
Adapun kemungkinan-kemungkinan bentuk kurva distribusi kesalahan adalah sebagai berikut :
(a). Kemungkinan kesalahan-kesalahan yang kecil lebih besar dari kemungkinan kesalahan-kesalahan yang besar.
(b). Kesalahan-kesalahan yang besar adalah sangat mustahil;
(c). Terdapat kemungkinan
yang sama bagi kesalahan-kesalahan positif dan negatif sehingga
kemungkinan suatu kesalahan yang diberikan akan simetri terhadap harga
nol.
Kurva distribusi kesalahan
pada gambar 1.2 didasarkan pada hukum Normal dan menunjukkan suatu
distribusi kesalahan yang simetris. Kurva normal ini dapat dipandang
sebagai bentuk yang membatasi histogram yang diberikan pada gambar 1.1
dalam mana nilai yang paling mungkin dari tegangan yang sebenarnya
adalah nilai rata-rata 100,0 volt.
b. Kesalahan Yang Mungkin (Probable Erorr)
Luasan yang dibentuk oleh kurva kemungkinan Gauss dalam gambar 1.2 diantara +¥ dan -¥, menyatakan semua jumlah pengamatan. Luasan yang dibatasi oleh +s dan 9-s
menyatakan kasus-kasus yang selisihnya dari nilai rata-rata tidak akan
melebihi deviasi standar. Integrasi luasan yang dibatasi oleh kurva
dalam batas-batas ±s
menghasilkan jumlah total semua kasus didalam batas-batas tersebut.
Untuk data yang tersebar secara normal, berdasarkan distribusi Gauss
diperoleh bahwa hampir 68% dari semua kasus-kasus tersebut berada dalam
daerah +s dan -s dari nilai rata-rata. Nilai-nilai yang sehubungan penyimpangan-penyimpangan lainnya dinyatakan dalam s diberikan pada tabel 1.2.
TABEL 1.2 Luasan dibawah kurva kemungkinan
Deviasi (+) (s)
|
Bagian luasan total yang tercakup
|
0.6745
1.0
2.0
3.0
|
0.5000
0.6828
0.9546
0.9972
|
Jika sejumlah tahanan yang nilai nominalnya 100 diukur dan nilai rata-rata yang diperoleh adalah 100,00 W, maka dengan deviasi standar sebesar 0,20 W
kita mengetahui bahwa sebanyak 68% (atau sekitar dua pertiga) dari
semua tahanan mempunyai nilai (harga) yang terletak di dalam batas-batas
±0,20 W
dari nilai rata-rata. Dengan demikian, terdapat sekitar dua banding
satu kemungkinan bahwa nilai setiap tahanan yang dipilih secara acak,
akan terletak diantara batas-batas tersebut. Jika diinginkan perbedaan
yang lebih besar, penyimpangan dapat diperbesar sampai batas ± 2s yang dalam hal ini adalah ± 0,40 W.
Sesuai dengan tabel 1.2, hal ini berarti 95% dari semua kasus dan 10
banding 1; artinya setiap tahanan yang dipilih secara acak terletak
dalam batas-batas ± 0.40 W dari nilai rata-rata 100.00 W.
Pada tabel 1.2 menunjukkan bahwa separuh dari kasus tersebut berada dalam batas-batas penyimpangan ± 0,6745 s. Besaran r disebut kesalahan yang mungkin (probable error) yang didefinisikan sebagai
Kesalahan yang mungkin r = ±0.6745 s. (6)
Nilai
ini adalah mungkin dalam arti bahwa terdapat suatu kesempatan yang sama
dimana setiap pengamatan akan memiliki suatu kesalahan acak yang tidak
melebihi ±r.
Contoh 1.7 :
Pengukuran sebuah tahanan sebanyak sepuluh kali memberikan : 101.2 W; 101.7 W; 101.3 W; 101.0 W; 101.5 W; 101.3 W; 101.2 W; 101.4 W; 101.3 W; 101.1 W.
Dengan menganggap bahwa hanya
terdapat kesalahan acak, tentukan : (a) nilai rata-rata, (b) deviasi
standar, (c) kesalahan yang mungkin.
Penyelesaiaan :
Pengamatan yang banyak
seperti ini lebih baik dibuat dalam bentuk tabel (daftar), sehingga
menghindari keragu-raguan dan kesalahan.
Pembacaan (x)
|
Deviasi
|
d
|
d2
|
101.2
101.7
101.3
101.0
101.5
101.3
101.2
.101.4
101.3
101.1
|
-0.1
0.4
0.0
-0.3
0.2
0.0
-0.1
0.1
0.0
-0.2
|
0.01
0.16
0.00
0.09
0.04
0.00
0.01
0.01
0.00
0.04
|
Sx = 1,013.0
|
S = 1,4
|
= 0,36
|
(a). Nilai rata-rata,
(b). Standar Deviasi,
,
(c). Kesalahan yang mungkin = 0,6745s = 0,6745 x 0,2 = 0,1349
.
c. Kesalahan Batas (Limiting Errors)
Dalam kebanyakan
instrumen, ketelitian hanya dijamin sampai suatu persentase tertentu
dari skala penuh. Komponen-komponen rangkaian (seperti kondensator,
tahanan, dan lain-lain) dijamin dalam suatu persentase tertentu dari
nilai tertera. Batas-batas penyimpangan dari nilai yang ditetapkan
disebut kesalahan batas (limiting error) atau kesalahan garansi (guarantee error). Misalnya jika nilai sebuah tahanan adalah 500
± 10%, maka pabrik menjamin bahwa nilai tahanan tersebut berada diantara 450
dan 550
.
Pabrik tidak menetapkan standar deviasi atau kesalahan yang mungkin,
tetapi menjanjikan bahwa kesalahan tidak akan lebih besar dari
batas-batas yang telah ditetapkan.
Contoh 1.8 :
Ketelitian sebuah voltmeter 0
– 150 V dijamin sampai 1% skala penuh. Tegangan yang diukur oleh
voltmeter adalah 83 V. Tentukan “limiting error” dalam persen.
Penyelesaian :
Besar kesalahan batas (limiting error) adalah 0,01 x 150 V = 1,5 V.
Persentase kesalahan pada penunjukan voltmeter sebesar 83 V adalah :
Pada contoh 1.8 di atas
terlihat bahwa voltmeter dijamin memiliki suatu ketelitian yang lebih
baik 1% skala penuh, tetapi sewaktu voltmeter tersebut membaca 83
voltmeter kesalahan batas bertambah menjadi 1,81%. Secara berkaitan,
bila tegangan yang diukur lebih kecil, kesalahan batas akan bertambah.
Jika voltmeter membaca 60 V kesalahan batas adalah sebesar
, sedang untuk pembacaan 30 V menjadi
.
Pertambahan persentase kesalahan batas sewaktu mengukur tegangan yang
lebih kecil adalah karena besarnya kesalahan batas merupakan suatu
kuantitas tertentu yang didasarkan pada skala maksimum alat ukur. Contoh 1.8 menunjukkan pentingnya melakukan pengukuran sedekat mungkin ke skala penuh.
Contoh 1.9 :
Tiga buah kotak tahanan dekade (kelipatan 10) yang masing-masing dijamin ± 1% digunakan dalam sebuah rangkaian jembatan Weaststone untuk mengukur sebuah tahanan yang tidak diketahui (Rx). Tentukan batas Rx yang diberikan oleh ketiga kotak tahanan tersebut .
Penyelesaian :
Persamaan untuk kesetimbangan jembatan menunjukkan bahwa dapat ditentukan dari ketiga kotak tahanan yaitu
, dimana R1, R2, dan R3 adalah tahanan-tahanan kotak yang dijamin sampai ± 0,1%. Harus diketahui bahwa kedua suku dalam pembilang (yaitu R1 dan R2)
bisa positif sampai batas maksimal 0,1% dan harga dalam penyebut bisa
negatif sampai maksimal 0,1% dan keduanya menghasilkan suatu kesalahan
total sebesar 0,3%. Dengan demikian, kesalahan garansi diperoleh dengan
menjumlahkan langsung semua kesalahan yang mungkin. Pengambilan
tanda-tanda aljabar menghasilkan kombinasi yang mungkin paling jelek
sebagai ilustrasi berikutnya untuk menghitung disipasi dalam sebuah
tahanan dengan menggunakan hubungan P = I2R diberikan pada contoh 1.10 berikut.
Contoh 1.10 :
Arus melalui sebuah tahanan 100 ± 0,2
adalah 2,00 ± 0,01 A. Dengan menggunakan persamaan P = I2R , tentukan kesalahan batas untuk disipasi daya.
Penyelesaian :
Dengan menyatakan batas-batas garansi arus dan tahanan dalam % , diperoleh :
I = 2,00 ± 0,01 A = 2,00 A ± 0,5%
R = 100 ± 0,2
= 100
± 0,2%
Jika dalam hal ini digunakan kombinasi kesalahn yang mungkin yang paling jelek, kesalahan batas dalam disipasi daya adalah (P = I2R)
(2 x 0,5%) + 0,2% = 1,2%
Dengan demikian, disipasi daya menjadi P = I2R = (2,00)2 x 100 = 400 W ± 1,2% = 400 ± 4,8 W.
SOAL LATIHAN
- Tentukan jumlah angka yang berarti dalam masing-masing bilangan berikut :
(a). 542 (d). 0.65
(b). 27.25 (e). 0.00005
(c). 40 x 106 (f). 20.000
- Sebuah voltmeter yang kepekaannya 10 W/V
membaca 75 V pada skala 100 V bila dihubungkan kesebuah tahanan
yang tidak diketahui. Bila arus melalui tahanan adalah 1,5 mA,
hitung (a) tahanan aktual dari tahanan yang tidak diketahui, (b)
persentase kesalahan karena efek pembebanan voltmeter.
- Tegangan antara ujung-ujung sebuah tahanan adalah 200 V dengan kesalahan yang mungkin sebesar ± 2%. Tahanan adalah 42 W dengan kesalahan yang mungkin sebesar ± 1,5%. Tentukan (a) disipasi daya di dalam tahanan, (b) persentase kesalahan.
- Pengukuran sebuah tahanan memberikan hasil-hasil berikut : 147,2 W; 147,4 W; 147,9 W; 148,1 W; 147,1 W; 147,5 W; 147,6 W; 147,4 W; 147,6 W; dan 147,5 W. Tentukan
(a) nilai rata-rata, (b) deviasi rata-rata, (c) standar deviasi,
(d) kesalahan yang mungkin dari rata-rata kesepuluh pembcaan
tersebut.
- Untuk
menentukan besaran (kuantitas) dilakukan enam pengamatan dan
kemudian data yang disajikan tersebut akan dianalisa. Data tersebut
adalah 12,35; 12,71; 12,48; 10,24; 12,63; dan 12,58. dengan
memeriksa data tersebut dan berdasarkan kesimpulan saudara, tentukan
(a) nilai rata-rata; (b) standar deviasi, (c) kesalahan yang
mungkin dari pembacaan rata-rata dalam persen.
- Dua buah tahanan mempunyai nilai berikut :
R1 = 36 W ± 5% dan R2 = 7 W ± 5%
Tentukan (a) besarnya
kesalahan dalam masing-masing tahanan, (b) kesalahan atas (dalam ohm dan
dalam persen) kedua tahanan tersebut jika dihubungkan berderet (seri),
(c) kesalahan batas dalam ohm dan dalam persen bila keduanya dihubungkan
paralel.
- Sebuah
tahanan yang tidak diketahui ditentukan dengan menggunakan
rangkaian jembatan Wheatstone. Hasil tahanan tersebut diperoleh dari
Rx = R1R2/R3.
Dimana R1 = 500 W ± 1%
R2 = 615 W ± 1%
R3 = 100 W ± 0,5%
Tentukan (a) nilai nominal tahanan yang tidak diketahui, (b) kesalahan batas tahanan tersebut dalam persen.
- Lengan-lengan
sebuah jembatan Wheatstone ditandai berurutan sekeliling jembatan
dengan tanda-tanda B, A, X, dan R. ketiga lengan yang diketahui
memiliki konstanta-konstanta berikut :
A = 840 W (standar deviasi, SD = 1 W)
B = 90 W (SD = 0,5 W)
R = 250 W (SD = 1 W)
Tentukan : (a) nilai X yang mungkin; (b) standar deviasi dari X.