Pengantar
Pernah
mengenakan pakaian berwarna hitam di siang hari yang panas ? Kalau
belum, silahkan mencoba… Kalau tidak punya pakaian berwarna hitam,
pinjam saja punya tetangga Bilang saja buat percobaan fisika, pasti
tidak diberi. hehe… Biar keren, kali ini dirimu tampil penuh percaya
diri dengan setelan hitam-hitam. Rasanya bagaimanakah ? wah, mau mati
saja rasanya… Sudah bikin gerah, dikirain penampakan lagi. Hiks2… Aneh
ya, masa cuma pakai pakaian berwarna hitam tubuh bisa kepanasan. Apa
hubungannya ya…
Btw,
biasanya pagi hari atau sore hari rasanya tidak terlalu panas. Tapi
kalau siang hari rasanya panas sekali… Kata ibu, waktu eyang butut masih
hidup memang sudah begitu… Esok kalau harga bbm naik lagi mungkin
berubah kali Mengapa ya, siang hari kok lebih panas daripada pagi hari
atau sore hari… Terus Amerika, eropa, dkk tuh katanya punya 4 musim. Ada
musim panas, musim dingin, musim semi, musim gugur. Kalau di Indonesia
malah banyak musim. Ada musim kemarau, musim hujan, musim banjir, musim
demam berdarah, musim karet, musim duren, musim mangga dkk. Mengapa
orang bule punya musim panas, musim dingin segala… Kayanya tidak adil
ya. Seharusnya Indonesia juga punya musim dingin, biar semuanya pada
kedinginan. Oya, nyaris lupa… Mengapa di kutub utara dan selatan suhunya
sangat dingin sampai semuanya pada membeku ?
Perpindahan kalor dengan cara Radiasi
Selain
berpindah dari tempat yang memiliki suhu lebih tinggi menuju tempat
yang memiliki suhu lebih rendah dengan cara konduksi dan konveksi, kalor
juga bisa berpindah tempat dengan cara radiasi. Bedanya, perpindahan
kalor dengan cara konduksi dan konveksi membutuhkan medium. Sebaliknya,
perpindahan kalor dengan cara radiasi tidak membutuhkan medium. Dirimu
jangan pake bingung dengan istilah medium. Yang dimaksudkan dengan
medium adalah benda-benda yang berfungsi sebagai penghantar kalor.
Penghantar kalor yang baik menggunakan cara konduksi adalah zat padat.
Sedangkan penghantar kalor yang baik menggunakan cara konveksi adalah
zat cair dan zat gas. Nah, perpindahan kalor dengan cara radiasi tidak
menggunakan penghantar. Kok bisa ya ?…. yupz
Radiasi sebenarnya
merupakan perpindahan kalor dalam bentuk gelombang elektromagnetik,
seperti cahaya tampak (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu
dll), infra merah dan ultraviolet alias ultra ungu. Mengenai gelombang
elektromagnetik akan kita kupas tuntas dalam pokok bahasan tersendiri.
Salah
satu contoh perpindahan kalor dengan cara radiasi adalah perpindahan
kalor dari matahari menuju bumi. Matahari memiliki suhu lebih tinggi
(sekitar 6000 K), sedangkan bumi memiliki suhu yang lebih rendah. Karena
terdapat perbedaan suhu antara matahari dan bumi, maka secara otomatis
kalor mengungsi dari matahari (suhu lebih tinggi) menuju bumi (suhu
lebih rendah). Seandainya perpindahan kalor dari matahari menuju bumi
memerlukan perantara alias medium, maka kalor tidak mungkin tiba di
bumi. Persoalannya si kalor harus melewati ruang hampa (atau hampir
hampa alias kosong melompong). Jika tidak ada sumbangan kalor dari
matahari, maka kehidupan di bumi tidak akan pernah ada. Ingat ya, kalor
tuh energi yang berpindah. Kehidupan kita di planet bumi sangat
bergantung pada energi yang disumbangkan oleh matahari. Nah, energi bisa
berpindah dari matahari ke bumi dalam bentuk kalor alias panas.
Contoh
lain dari perpindahan kalor dengan cara radiasi adalah panas yang
dirasakan ketika kita berada di dekat nyala api. Panas yang kita rasakan
bukan disebabkan oleh udara yang kepanasan akibat adanya nyala api.
Seperti yang telah gurumuda jelaskan pada pokok bahasan konveksi,
biasanya udara yang kepanasan memuai sehingga massa jenisnya berkurang.
Akibatnya, udara yang massa jenisnya berkurang tadi meluncur ke atas,
tidak meluncur ke arah kita. Mirip seperti asap yang keluar lewat
cerobong. Kita bisa merasa hangat atau kepanasan ketika berada di dekat
nyala api karena kalor berpindah dengan cara radiasi dari nyala api
(suhu lebih tinggi) menuju tubuh kita (suhu lebih rendah). Dengan kata
lain, kita bisa merasa hangat atau kepanasan karena adanya energi yang
berpindah dengan cara radiasi dari nyala api menuju tubuh.
Perpindahan
kalor dengan cara radiasi sedikit berbeda dibandingkan dengan
perpindahan kalor dengan cara konduksi dan konveksi. Perpindahan kalor
dengan cara konduksi dan konveksi terjadi ketika benda-benda yang
memiliki perbedaan suhu saling bersentuhan. Sebaliknya, perpindahan
kalor dengan cara radiasi bisa terjadi tanpa adanya sentuhan. Matahari
dan bumi tidak saling bersentuhan, tetapi kalor bisa mengungsi dari
matahari menuju bumi. Demikian juga nyala api dan tubuh kita tidak
saling bersentuhan, tetapi tubuh bisa kepanasan kalau kita berdiri di
dekat nyala api.
Laju perpindahan kalor dengan cara radiasi
Laju
perpindahan kalor dengan cara radiasi ditemukan sebanding dengan luas
benda dan pangkat empat suhu mutlak (Skala Kelvin) benda tersebut. Benda
yang memiliki luas permukaan yang lebih besar memiliki laju perpindahan
kalor yang lebih besar dibandingkan dengan benda yang memiliki luas
permukaan yang lebih kecil. Demikian juga, benda yang bersuhu 2000
Kelvin, misalnya, memiliki laju perpindahan kalor sebesar 24 = 16 kali
lebih besar dibandingkan dengan benda yang bersuhu 1000 Kelvin. Hasil
ini ditemukan oleh om Josef Stefan pada tahun 1879 dan diturunkan secara
teoritis oleh om Ludwig Boltzmann sekitar 5 tahun kemudian. Secara
matematis bisa ditulis sebagai berikut :
Keterangan :

Catatan :
Pertama,
kalor merupakan energi yang berpindah. Lebih tepatnya kalor merupakan
energi yang berpindah akibat adanya perbedaan suhu.
Kedua, laju perpindahan kalor = jumlah kalor yang berpindah tempat selama selang waktu tertentu.
Ketiga,
kata radiasi bisa berarti pancaran, demikian juga kata meradiasikan
bisa berarti memancarkan. Kita menggunakan kata memancarkan karena kalor
berpindah tempat menggunakan gelombang elektromagnetik (tidak pake
perantara).
Keempat, kata memancarkan dan menyerap tuh artinya
berbeda. Kalau memancarkan, berarti kalor ditendang keluar. Tapi kalau
menyerap, berarti kalor disedot habis2an.
Kelima, kadang gurumuda
pakai istilah perpindahan kalor, kadang pake istilah radiasi energi.
Kalor tuh energi yang berpindah. Si kalor bisa berpindah tempat dengan
cara radiasi. Karenanya, kita juga bisa menggunakan istilah radiasi
energi atau radiasi. Jangan pake bingung… Lanjut ya
Benda
yang permukaannya berwarna gelap (hitam pekat, seperti arang) memiliki
emisivitas mendekati 1, sedangkan benda yang berwarna terang memiliki
emisivitas mendekati 0. Semakin besar emisivitas suatu benda (e
mendekati 1), semakin besar laju kalor yang dipancarkan benda tersebut.
Sebaliknya, semakin kecil emisivitas suatu benda (e mendekati 0),
semakin kecil laju kalor yang dipancarkan. Kita bisa mengatakan bahwa
benda yang berwarna gelap (warna hitam dkk) biasanya memancarkan kalor
yang lebih banyak dibandingkan dengan benda yang berwarna terang (warna
putih dkk).
Besarnya emisivitas tidak hanya menentukan kemampuan
suatu benda dalam memancarkan kalor tetapi juga kemampuan suatu benda
dalam menyerap kalor yang dipancarkan oleh benda lain. Benda yang
memiliki emisivitas mendekati 1 (benda yang berwarna gelap) menyerap
hampir semua kalor yang dipancarkan padanya. Hanya sebagian kecil saja
yang dipantulkan. Sebaliknya, benda yang memiliki emisivitas mendekati 0
(benda yang berwarna terang) menyerap sedikit kalor yang dipancarkan
padanya. Sebagian besar kalor dipantulkan oleh benda tersebut.
Benda
yang menyerap semua kalor yang dipancarkan padanya memiliki emisivitas =
1. Benda jenis ini dikenal dengan julukan benda hitam. Dinamakan benda
hitam bukan berarti benda tersebut berwarna hitam. Benda hitam
sebenarnya merupakan sebuah benda ideal saja. Btw, konsep benda hitam
ideal ini penting karena laju radiasi benda ini secara teoritis bisa
dihitung. Mengenai benda hitam akan kita oprek dalam pokok bahasan
tersendiri.
Berdasarkan ulasan panjang pendek di atas, bisa
disimpulkan bahwa benda yang memiliki emisivitas mendekati 1 (benda yang
nyaris hitam pekat) merupakan pemancar sekaligus sebagai penyerap kalor
yang baik. Sebaliknya, benda yang memiliki emisivitas mendekati 0
(benda yang berwarna terang) merupakan pemancar dan penyerap kalor yang
buruk.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, setiap benda,
apapun itu, selain memancarkan kalor, juga bisa menyerap kalor yang
dipancarkan oleh benda lain. Misalnya terdapat dua benda, sebut saja
benda 1 dan benda 2. Benda 1 berada di dekat benda 2. Benda 1
memancarkan kalor, benda 2 juga memancarkan kalor. Nah, selain
memancarkan kalor, benda 1 pasti menyerap kalor yang dipancarkan benda
2. Demikian juga sebaliknya, selain memancarkan kalor, benda 2 pasti
menyerap kalor yang dipancarkan oleh benda 1. Karenanya untuk menghitung
laju total perpindahan kalor yang dipancarkan oleh benda 1 atau benda
2, kita tidak bisa menggunakan persamaan om Stefan-Boltzmann di atas.
Persamaan di atas hanya bisa digunakan untuk menentukan laju perpindahan
kalor yang dipancarkan oleh sebuah benda (dengan anggapan tidak ada
benda lain yang berada di sekitar benda tersebut). Jadi kita perlu
mengoprek persamaan di atas untuk memperoleh persamaan yang sesuai
dengan kondisi ini. Untuk menurunkan persamaan yang dimaksud, gurumuda
tetap menggunakan ilustrasi benda 1 dan benda 2.
Misalnya benda 1
memiliki emisivitas e, suhu T1 dan luas permukaannya A. Laju
perpindahan kalor yang dipancarkan oleh benda 1 sebanding dengan pangkat
empat suhu mutlak T1, emisivitas e dan luas permukaan A. Secara
matematis ditulis sebagai berikut :

Agar
perpindahan kalor bisa terjadi maka harus terdapat perbedaan suhu.
Karenanya suhu benda 1 berbeda dengan suhu benda 2. Benda 2 memiliki
suhu T2. Laju kalor yang dipancarkan benda 2 sebanding dengan pangkat
empat suhu T2. Karena kalor yang dipancarkan benda 2 diserap oleh benda
1, maka laju kalor yang diserap benda 1 juga sebanding dengan pangkat
empat suhu T2.
Karena terdapat kalor yang dipancarkan dan kalor
yang diserap oleh benda 1, maka laju total kalor yang dipancarkan oleh
benda 1 adalah :

Ini
persamaan yang kita cari. Persamaan ini digunakan untuk menentukan laju
total kalor yang dipancarkan oleh sebuah benda. Yang dimaksudkan dengan
laju total kalor adalah selisih antara laju kalor yang pancarkan dan
laju kalor yang diserap.
Pemancaran dan penyerapan kalor dengan
cara radiasi akan terhenti jika kedua benda tersebut berada dalam
keseimbangan termal (suhu kedua benda sama). Jadi apabila T1 = T2, maka
Q/t = 0.
Apabila kalor yang dipancarkan benda 1 lebih banyak
daripada kalor yang diserapnya, maka suhu benda 1 menurun sedangkan suhu
benda 2 meningkat. Suhu benda 2 meningkat karena benda 2 menyerap kalor
yang dipancarkan benda 1. Sebaliknya, jika kalor yang diserap benda 1
lebih banyak daripada kalor yang dipancarkannya maka suhu benda 1
meningkat sedangkan suhu benda 2 menurun.
Contoh soal 1 :
Sebuah
benda berbentuk kubus dengan panjang salah satu sisi kubus = 2 meter.
Suhu benda = 100 oC dan emisivitas benda = 0,2. Tentukan laju kalor yang
dipancarkan benda setiap detik…
Panduan Jawaban :
Suhu benda (T) = 100 oC + 273,15 = 373,15 K (suhu benda harus diubah ke dalam skala Kelvin)
Emisivitas (e) = 0,2 (emisivitas tidak punya satuan)
Luas benda (A) = sisi x sisi = 2 m x 2 m = 4 m2
Konstanta Stefan-Boltzmann = 5,67 x 10-8 W/m2.K4
Sekarang kita oprek laju aliran kalor yang dipancarkan benda.
Watt = Joule/sekon = J/s (satuan Energi per waktu alias satuan Daya)
1 Watt = 1 Joule/sekon
879,5 Watt = 879,5 Joule/sekon
Benda memancarkan 879,5 Joule per detik.
Contoh soal 2 :
Seorang
anak yang lagi bugil alias tidak berpakaian sedang berada dalam sebuah
kamar. Luas permukaan tubuh anak tersebut = 2 m2, suhu kulitnya = 30 oC
dan emisivitasnya = 0,8. Jika suhu kamar = 20 oC, berapakah laju kalor
yang hilang setiap detik dari tubuh si anak ?
Panduan Jawaban :
Suhu anak (T1) = 30 oC + 273,15 = 303,15 K
Suhu kamar (T2) = 20 oC + 273,15 = 293,15 K
Emisivitas (e) = 0,8
Luas tubuh (A) = 2 m2
Konstanta Stefan-Boltzmann = 5,67 x 10-8 W/m2.K4
Ok, tancap gas….
96,16 Watt = 96,16 Joule/sekon
Laju kalor yang lenyap dari tubuh si anak adalah 96,16 Joule per detik.
Laju kalor yang dipancarkan matahari (Laju radiasi matahari)
Sejak
pagi sampai sore, kita selalu kebanjiran kalor dari matahari. Saking
baik hatinya matahari, kalor yang disumbangkan kepada kita kadang
overdosis sehingga tubuh kita kepanasan. Apalagi orang yang kulitnya
agak hitam seperti gurumuda. Wah, kalau siang rasanya dingin sekali… Ok,
kembali ke laptop. Seperti biasa, untuk menghitung laju perpindahan
kalor dari matahari, tentu saja kita membutuhkan bantuan rumus. Rumus
lagi, rumus lagi…. pusink dah
Berdasarkan hasil perhitungan
(sesuai dengan kenyataan), ditemukan bahwa terdapat kalor sebesar 1350
Joule per sekon per meter persegi yang mengungsi dari matahari menuju
planet bumi di mana dirimu dan diriku berada. Pada hari yang cerah
(tidak ada awan), terdapat kalor sebesar 1000 Joule per sekon per meter
persegi yang tiba dengan selamat di permukaan bumi. Pada hari yang tidak
cerah (banyak awannya), sekitar 70 % kalor diserap oleh atmosfir bumi.
Rakus juga ya si atmosfir… Jadi hanya 30 % kalor yang tiba dengan
selamat di permukaan bumi. Besarnya kalor yang lenyap di atmosfir bumi
tergantung pada banyak atau sedikitnya awan yang menggelayut manja di
langit.
Jumlah kalor sebesar 1350 Joule per sekon per meter
persegi dikenal dengan julukan konstanta matahari. Karena Joule per
sekon (J/s) = Watt, maka kita bisa menulis kembali konstanta matahari
menjadi 1350 Watt per meter persegi = 1350 W/m2
Ketika kalor yang
dipancarkan oleh matahari tiba di permukaan bumi, kalor tersebut
diserap oleh benda hidup dan benda mati yang berada di permukaan bumi.
Laju penyerapan kalor bergantung pada emisivitas (e) benda tersebut,
luas permukaan benda dan sudut yang dibentuk oleh sinar matahari dengan
garis yang tegak lurus permukaan benda. Untuk memudahkan pemahamanmu,
tataplah gambar di bawah dengan penuh kelembutan.

Secara matematis, laju penyerapan kalor bisa ditulis sebagai berikut :
Keterangan :
Pada
siang hari, sinar matahari sejajar atau berhimpit dengan garis yang
tegak lurus permukaan bumi (Sudut yang dibentuk = 0). Amati gambar di
bawah…
Karena sudut yang dibentuk = 0o, maka laju penyerapan kalor adalah :
Laju
penyerapan kalor (Q/t) bernilai maksimum jika sudut yang dibentuk sinar
matahari dengan garis yang tegak lurus permukaan bumi = 0o (cos 0 = 1).
Biasanya ini terjadi pada siang hari, di mana matahari kesayangan kita
tepat berada di atas kepala. Jadi tidak perlu heran kalau siang hari
rasanya panas sekali.
Pada pagi hari dan sore hari, sudut yang terbentuk mendekati 90o. Amati gambar di bawah…
Besar
sudut yang mendekati 90o bisa saja 70o, 75o, 80o, 85o dll. Berdasarkan
gambar di atas, sudut yang terbentuk sekitar 80o (Ini cuma perkiraan
kasar saja). Seandainya sudut yang terbentuk adalah 80o, maka laju
penyerapan kalor adalah :
Laju
kalor (Q/t) pada pagi hari dan sore hari bernilai minimum karena cos
teta mendekati nol. Semakin kecil cos teta, semakin kecil laju
penyerapan kalor (Q/t). Hal ini yang menjadi alasan mengapa pada pagi
hari atau sore hari kita tidak merasa panas.
Pada saat matahari terbenam di ufuk barat atau hendak terbit di ufuk timur, sudut yang terbentuk = 90o. Amati gambar di bawah…
Karena sudut yang dibentuk = 90o, maka laju penyerapan kalor adalah :

Laju
penyerapan kalor (Q/t) pada saat matahari terbenam di ufuk barat atau
hendak terbit di ufuk timur = 0. Jadi tidak ada kalor yang disedot. Ya
iyalah, sinar matahari saja tidak ada. Mau disedot apanya…. Pada siang
hari matahari baik hati sekali ya, tapi kalau menjelang malam matahari
berubah menjadi sangat pelit Kayanya perlu dikasih pelajaran tuh
Penerapan radiasi
Salah
satu penerapan perpindahan kalor dengan cara radiasi adalah termografi.
Alatnya dinamakan termograf. Termograf biasa digunakan untuk mendeteksi
tumor, kanker dkk. Jalan ceritanya seperti ini… Biasanya proses
metabolisme pada bagian tubuh yang ada tumor atau kanker cukup tinggi.
Karenanya suhu bagian tubuh tersebut lebih tinggi. Ingat ya, semakin
tinggi suhu, semakin banyak kalor yang dipancarkan alias diradiasikan.
Nah, tugas si termograf adalah menscan alias mengukur besarnya kalor
yang diradiasikan oleh semua bagian tubuh. Bagian tubuh yang memancarkan
kalor paling banyak tentu saja pantas dicurigai… Selanjutnya harus
dimata-matai, jika sangat membahayakan sebaiknya dipotong
Konsep2nya
sudah gurumuda jelaskan. Keanehan yang diulas pada bagian pengantar
dijawab sendiri ya… Masukan saja melalui kolom komentar. Nanti baru kita
bahas bareng2. Jika ada salah kata, salah mata atau salah malah,
sehingga dirimu bingung 7 keliling, mohon jangan dimaafkan ya. Tanyakan
saja melalui kolom komentar.
Referensi
Giancoli, Douglas C., 2001, Fisika Jilid I (terjemahan), Jakarta : Penerbit Erlangga
Halliday dan Resnick, 1991, Fisika Jilid I, Terjemahan, Jakarta : Penerbit Erlangga
Tipler, P.A.,1998, Fisika untuk Sains dan Teknik-Jilid I (terjemahan), Jakarta : Penebit Erlangga
Young, Hugh D. & Freedman, Roger A., 2002, Fisika Universitas (terjemahan), Jakarta : Penerbit Erlangga